banner 728x250

Junaidi Auly Minta Roadmap Pengembangan Gas Bumi di Bali Lebih Terukur

Jakarta, Lintaspendidikannews.com – Anggota Komisi XII DPR RI Junaidi Auly, dalam agenda Kunjungan Kerja Reses Komisi XII DPR RI ke Denpasar, Bali, Sabtu (25/4/2026). Bali — Anggota Komisi XII DPR RI Junaidi Auly meminta penyusunan roadmap pengembangan gas bumi di Bali dilakukan secara lebih terukur dan jelas guna mendukung pelayanan energi yang efektif dan efisien. Hal ini menjadi sorotannya lantaran pola distribusi gas ke Bali saat ini masih mengandalkan skema beyond pipeline, yakni melalui truk dan kapal. Ia menilai, kondisi tersebut membutuhkan perencanaan yang lebih matang melalui roadmap yang terukur, baik dari sisi waktu maupun volume pasokan. Baginya, upaya ini akan mengoptimalkan pelayanan energi di Bali.
Kami minta roadmap yang lebih jelas dari tahun ke tahun, termasuk volume pasokan, agar pelayanan gas bisa lebih efektif dan efisien,” katanya.

Baca Juga:  Tebar Kepedulian di Bulan Ramadhan, Kapolresta Manado Pimpin Pembagian Takjil Bersama Bhayangkari dan Polwan

 

Lebih lanjut, Junaidi menekankan pentingnya perluasan layanan gas hingga menjangkau seluruh lapisan masyarakat, tidak hanya sektor tertentu. Menurutnya, Bali dengan potensi pariwisata yang besar seharusnya mampu mendorong pengembangan layanan energi yang lebih merata Kami ingin pelayanan gas ini bisa menjangkau seluruh lapisan masyarakat,” tuturnya.

 

Ia juga menyoroti tantangan pengembangan jaringan gas (jargas) di Bali yang dipengaruhi kondisi geografis. Distribusi lintas wilayah, terutama melalui jalur laut, dinilai berdampak pada biaya pengembangan infrastruktur. “Kondisi geografis membuat pengembangan jargas menjadi lebih mahal, sehingga perlu solusi yang tepat,” ungkapnya.

Baca Juga:  LIRA Konsel Aksi di Moramo–Konda, Soroti Truk Overload Yang Memicu Kerusak Jalan dan Desak Penindakan Tegas

Meski demikian, dirinya menilai pasokan gas dalam bentuk Compressed Natural Gas (CNG) dan Liquefied Natural Gas (LNG) tetap perlu dioptimalkan dengan dukungan infrastruktur yang lebih baik agar harga dapat lebih terkendali. “Pasokan CNG dan LNG harus tersedia dengan baik dan didukung infrastruktur yang memadai,” Terkait pemanfaatan gas untuk pembangkit listrik, ia menilai secara teknis hal tersebut memungkinkan, namun perlu mempertimbangkan aspek efisiensi dibandingkan sumber energi lain. Sebab, ungkapnya, faktor biaya produksi dan ketergantungan terhadap impor gas masih menjadi tantangan.

 

“Secara teknis bisa, tetapi perlu dilihat dari sisi efisiensi dan biaya produksi,” katanya.
Terakhir, ia menambahkan, pengembangan energi di Bali perlu dilakukan secara realistis dengan mempertimbangkan berbagai faktor, termasuk keekonomian dan ketersediaan pasokan. “Yang terpenting adalah bagaimana energi di Bali tetap andal dan terjangkau,” pungkasnya.

Baca Juga:  DPD PEMUDA LIRA KONSEL KECAM PENAMBANGAN BATU DI PULAU SENJA, SOROTI PENCEMARAN BIOTA LAUT DAN JETTY DIDUGA TANPA IZIN

(Humas DPR-RI)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *