Malunda, Lintaspendidikan.news Pembinaan sepak bola usia dini di Lapangan Tasinara, Malunda, kembali menggeliat berkat dedikasi seorang guru olahraga bernama Subri. Bersama tiga rekannya— Ifran, Idam, dan Ridwan —ia bertekad memajukan sepak bola di kampung halamannya melalui latihan rutin bagi anak-anak usia sekolah.
Dengan inisiatif pribadi dan tanpa dukungan besar dari pihak mana pun, Subri mengumpulkan puluhan anak dari tingkat SD hingga SMP untuk dibina secara serius. Ia ingin memastikan generasi muda Malunda tumbuh dengan disiplin, karakter kuat, serta memiliki peluang masa depan di dunia olahraga, khususnya sepak bola.
Latihan digelar tiga kali seminggu, setiap Selasa, Kamis, dan Minggu. Jadwal yang teratur ini menjadi rutinitas yang ditunggu-tunggu para peserta didik yang selalu hadir dengan penuh semangat. Bagi Subri, aktivitas tersebut bukan sekadar latihan fisik, tetapi gerakan kolektif membangun generasi bangsa yang tangguh dan berdaya saing.
Di ujung setiap sesi, Subri tampak layaknya pelatih profesional—peluit di tangan, arahan tegas, dan perhatian penuh terhadap perkembangan anak-anak. Namun, sesekali senyumnya mencuat ketika melihat para pemain cilik itu berebut bola dengan gaya ala bintang-bintang sepak bola dunia versi mereka sendiri.
Meski napas terengah, kaus basah oleh keringat, dan sepatu penuh debu, para anak tetap mengikuti instruksi tanpa mengeluh, seakan energi mereka tak pernah habis. Pemandangan itu menjadi sumber kebahagiaan tersendiri bagi Subri.
Baginya, membimbing bakat-bakat muda—yang kadang lucu, kadang membuat geleng kepala—adalah proses berharga yang menegaskan keyakinannya bahwa masa depan sepak bola Malunda sedang ia bangun dari sebuah lapangan kecil yang penuh mimpi dan harapan. (RED)














